Posted by: mahadteebee | February 3, 2011

Proses Penciptaan Nabi Adam

Nabi Adam as proses penciptaannya benar-benar detail. Bahkan, di beberapa ayat, Allah ta’ala mengurai mengenai kejadian Nabi Adam as. Di mana secara khusus di surat al-baqarah dibahas mengenai penciptaan manusia pada ayat ke 30-39. Jelas sekali, bahwa penciptaan Nabi Adam, terlepas dari proses penciptaannya, benar-benar memegang amanah sebagai seorang khalifah Allah ta’ala di muka bumi. Yang tugas mulianya adalah menciptakan kehidupan yang serba seimbang. Yang sebelumnya banyak diwarnai dengan peperangan, pertumpahan darah, dan dis-harmoni. Allah a’ala berfirman,

Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Para malaikat bertanya, “Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.” (Qs.al-Baqarah [2]: 30).

Sang Khalifah itulah yang secara personal disebut Adam. Sebab, terbuat dari tanah tembikar yang berasal dari lumpur hitam (Qs.al-Hijr [15]: 28). Yang kemudian setelah mengalami pribumisasi. Nabi Adam as berkembang menjadi sebuah komunitas Adam. Maksudnya, sebuah komunitas dari anak turun Nabi Adam as. Allah ta’ala berfirman,

“[Ingatlah] ketika Rabb-mu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (Qs.Shad [38]: 71).

Manusia yang kemudian mendapat amanah menjadi khalifah Allah di muka bumi. Yang disebut Adam. Karena memang diciptakan dari tanah. Ada tanah liat. Tanah tembikar. Tanah lumpur hitam. Yang kesemuanya secara proses yang sangat revolusioner, ditiupkan ruh Allah kepada Adam tersebut. Jadi, proses kejadian Adam secara personal benar-benar dari tanah. Baru setelah hidup berdampingan dengan Ibunda Hawa as. Regenasi Adam mengalami proses bilogis seperti lazimnya kejadian manusia dalam sejarahnya. Allah ta’ala berfirman,

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan Ku? Apakah kamu menyombongkan diri? Ataukah, kamu [merasa] termasuk orang-orang yang [lebih] tinggi?” (Qs.Shad [38]: 75).

Kalam Allah ta’ala yang berbunyi, “Biadī.” Yang artinya, “Tangan Ku (Allah).” Relevan dengan hadis Nabi saw, “Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah dari semua jenis tanah. Anak cucu Adam sendiri diciptakan sesuai dari kadar tanah yang menjadi bahan penciptaannya” (Hr.Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Setelah rampung secara fisik. Adam mendapatkan tiupan ruh Allah ke dalam jasad wadaknya. Sungguh luar biasa. Ternyata dalam proses kejadian manusia. Terdapat ruh Allah yang senantiasa menyertai seorang manusia di kehidupan ini. Allah ta’ala berfirman,

Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh Ku. Maka, tunduklah kamu kepadanya dengan memberikan penghormatan” (Qs.al-Hijr [15]: 29).

Benarkah Adam Orang Pertama?

Apabila ada pertanyaan, “Benarkah Nabi Adam orang pertama yang berada di bumi?” Untuk menjawabnya, kita harus kembali kepada surat al-baqarah ayat ke-30. Di mana para malaikat sempat bertanya kepada Allah a’ala, “Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”

Berdasarkan pertanyaan malaikat tersebut. Berarti di bumi secara umum sudah ada makhluk yang seperti orang. Dengan segenap tabiat yang buruk. Yakni: suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Para ulama menyebutnya sebagai anak keturunan banul-jan. Secara arkeologis, berdasarkan temuan-temuan fosil. Maka, sebenarnya yang disebut banul-jan, adalah para manusia purba yang tidak berbudi pekerti mulia. Sebut saja manusia purba itu adalah: Megantropus Paleo Javanicus dan Phitecantropus Erectus. Yang kedua ditemukan di Sangiran (Solo) dan Trinil (Ngawi). Yang diperkirakan hidup antara 1-2 juta tahun yang lalu.

Baru setelah itu muncullah generasi homo sapiens (manusia yang berbudi, red). Yang fosilnya juga di temukan di Indonesia, yaitu di Wajak (Tulungagung), antara tahun 650.000-1 juta tahun yang lalu.

Itulah sebabnya, ke-khalifah-an Adam dan Ibunda Hawa, semata menciptakan keharmonian kehidupan dunia yang semua dis-harmoni, akibat perilaku para Megantropus dan Phitecantropus yang suka berbuat kerusakan dan pertumpahan darah.

Maka, ditemukannya homo sapiens di Wajak. Benar-benar memberikan pencerahan kepada kita. Bahwa, bangsa Indonesia merupakan generasi dari para homo sapiens, dengan tugas ke-khalifah-an yang berat. Karena mendapatkan perkenan dari Allah ta’ala. Maka, tugas tersebut berjalan dengan sangat bagus. Sehingga bumi dengan segenap etika dan tatakramanya menjadi seimbang dan harmonis.

Para homo sapiens itulah yang membentuk komunitas adam. Komunitas manusia yang berasal dari tanah tersebut. Di sinilah Darwin si Yahudi itu tidak dapat menggabungkan, antara para homo sapiens dengan para manusia purba tersebut. Sebab, memang dari kejadiannya sangat berbeda, antara homo sapiens dengan kaum megantropus dan kaum phitecanropus. Artinya, kaum homo sapiens benar-benar manusia baru, dengan tugas yang baru pula. Lalu, dia katakan, “Rantai yang hilang (missing link).”

Itu pun masih terjadi pertempuran yang hebat, antara Habil dan Qabil dari kedua putera Nabi Adam as tersebut. Inilah awal manusia melakukan reproduksi dengan melalui spermatozoa dengan ovum dalam proses pembuahan yang luar biasa, yang menunjukkan ke-Mahabesaran Allah jalla jalaluh.

Benarkah Adam Turun di Hindia?

Apakah sama yang dimaksud Hindia dengan India? Berdasarkan sejarah jelas berbeda, antara Hindia dengan India. India ya India. Adapun Hindia adalah Indonesia. Jaman dahulu Indonesia disebut Hindia. Bahkan, lebih lama lagi Indonesia dikatakan Sundaland. Malah dengan bukti-bukti yang nyata bangsa Lemuria merupakan leluhur bangsa Indonesia.

Di banyak tulisan, khususnya catatan Imam Ibnu Katsir r.hu. Nabi Adam as turun di Hindia. Apakah sang Imam menyamakan Hindia dengan India. Tidak ada keterangan. Namun dengan husnudhan yang tinggi, sanga Imam dengan kedalaman dan keluasan ilmunya, insya Alah yang dimaksud Hindia adalah Indonesia; wallahu a’alam.

Tidak penting. Indonesia bagian mana Nabi Adam as diturunkan Allah ta’ala. Jika data temuan arkeologis homo sapiens di Wajak (Tulungagung). Maka, boleh jadi tidak jauh dari tempat ditemukan fosil homo sapiens tersebut, Nabi Adam berkomunitas.

Barulah Nabi Adam as melakukan perjalanan spiritualnya ke Jabal Rahmah dan bertemu dengan Ibunda Hawa. Jadi, sangat masuk akal jika ada yang mengatakan seluruh dunia ini adalah keturunan bangsa Jawa Dwipa (putih berkilau).

Sampai detik ini. Tidak ada fosil manusia tertua yang melebihi temuan fosil purba di: Sangiran (Solo); Trinil (Ngawi); dan Wajak (Tulungagung). Adapun fosil-fosil yang lain, bertebaran di aliran sungai bengawan solo dan sungai-sungai yang lain. Perlu diketahui, pulau Jawa adalah daratan yang banyak dialiri sungai. Ini merupakan anugerah Allah ta’ala yang harus disyukuri oleh bangsa ini [ ]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: