Posted by: mahadteebee | March 6, 2011

Belajar Dari Mesir

Memang berbeda antara Husni Mubarak dan Muhammad Soeharto. Tetapi setidaknya, sama-sama muslim. Sama-sama haji. Sama-sama berpengalaman memerintah 30 tahun. Dan, sama-sama militer. Insya Allah yang sedikit berbeda. Mubarak menjadi boneka Israel dan AS. Dan, keturunan nasab yang berbeda. Apabila Soeharto keturunan Jawa. Sedangkan, Mubarak memiliki percampuran antara Semit dengan Hamit. Sehingga wajar jika sedikit mokong. Mubarak tidak mengenal bahasa lego legowo. Sebaliknya, Mubarak dengan enteng mengatakan, “Jika saya turun Mesir malah terjadi kekacauan.” Meski akhirnya juga turun, dan menyerahkan kekuasaannya kepada pihak militer. Tidak kepada politisi. Yang notabene adalah sipil.

Jika Mubarak mau belajar dengan Soeharto. Sebelum rakyat Mesir menuntut mundur. Dia seharusnya mundur duluan. Rakyat Mesir bakal menghormatinya. Apabila dia mati sewaktu-waktu akan dielu-elukan.

Tetapi, sekarang menjadi berbeda. Rakyat Mesir, baik yang di dalam negeri maupun di luar Mesir dibuat Mubarak gemes, sekaligus jengkel. Tidak dapat dibayangkan jika Mubarak meninggal besok. Mungkin Mubarak baru lupa. Bahwa, tidak selamanya manusia hidup di dunia. Tidak selamanya bunga bermekaran mewangi. Ada masanya. Ada saatnya. Tidak selamanya pula uang dan kekayaan berkuasa. Harta kekayaan Mubarak selama memerintah Mesir yang hampir 300 trilyun. Tidak mungkin mampu mengembalikan nama, atau menjadikan nama dia harum. Seperti Gus Dur, misalnya. Diakui atau tidak. Sampai alfaqir menulis ini, data lapangan menunjukkan orang yang menziarahi Gus Dur per hari tidak lebih 1000 orang. Penziarah meningkat dua kali lipat pada hari Sabtu dan Ahad. Berapa judul buku yang membahas mengenai Gus Dur, baik yang memuji dan memakinya.

Bukan maksud alfaqir untuk membandingkan Gus Dur dengan Mubarak, atau dengan Soeharto sekalipun. Namun masyarakat luas melihat kenyataan itu. Inilah kehebatan orang Indonesia yang memiliki kata hikmat, “Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia meninggalkan nama.”

Coba cari di dunia ini. Kurun 100 tahun terakhir. Siapakah orang mati yang banyak diziarahi dan dikenang?

Memang akhirat itu urusan Tuhan. Termasuk mengenai amal orang yang sudah mati. Lady Diana? Imelda Marcos? Theresia? Atau yang lain? (Jika perlu lakukan surve). Bahkan penganugerahan kepada Gus Dur banyak diterima setelah beliau wafat.

Ingat, seseorang, siapa pun dia, apabila lupa dengan maut. Hatinya pasti keras. Hati yang keras sulit menerima nasehat, krititan, dan saran. Hati yang keras menandakan pula, rizeki yang didapatkan lebih banyak dari yang haram lagi syubhat. Gaji presiden dapat dihitung. Tapi mengapa rata-rata para penguasa itu menjadi kaya mendadak? Apakah hal itu yang menjadi motivasi setiap orang untuk menjadi pemimpin??

Inilah takdir bangsa Mesir. Yang bagaimana pun Fir`aun adalah orang mesir. Hati Fir`uan sangat keras. Hati yang keras identik sombong. Orang sombong sulit diajak dialog dan berpikir jernih.

Apabila hal itu yang terjadi, maka tidak dapat dimasuki al-qur`an dan al-hadis, termasuk ilmu pengetahuan. Meski di Mesir banyak orang-orang cerdas, pandai, dan alim. Sayang mereka semua dikalahkan dengan kesombongan yang terorganisir. Tidak sedikit dari mereka yang harus hengkang dari Mesir. Karena yang dibutuhkan Mubarak bukan orang cerdas. Bukan orang pandai. Bukan orang alim. Namun yang dibutuhkan Mubarak, adalah orang yang menurut pada dirinya. Orang yang patuh padanya. Inilah ciri-ciri tirani.

Sayang memang Mubarak bukan Soeharto. Meski terdapat kesamaan antara keduanya, namun Soeharto lebih sedikit hebat dibandingkan Mubarak. Soeharto lebih mau mendengar saran, nasehat, dan masukan meski usianya yang lumayan sepuh. Sehingga dengan lego legowo mau mengundurkan diri di tengah perjalanan kursi kepresidenan. Tidak perlu dipaksa dunia luar. Tidak membutuhkan berhari-hari demo.

Memang jika dicari kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi, jika dibandingkan dengan Mubarak. Tidak salah jika kita membanggakan Soeharto. Artinya, bersyukur kita pernah dipresideni Soeharto, tidak dipresideni Mubarak. Ini pula yang menjadi keprihatinan kita. Sayang Mesir dipresideni Mubarak, tidak dipresideni Soeharto. Memang Mesir sangat berbeda dengan Indonesia. Silahkan Mesir dengan modelnya. Kita dengan model Indonesia.

Konon Mesir sebagai pusat keilmuan Islam dengan mercusuar Universitas al-Azhar. Ternyata, perilaku korupsi dan dekadensi moral juga di mana-mana. Kemiskinan merajalela. Hampir 40% rakyat Mesir dirundung kemiskinan struktural.

Populeritas al-Azhar tidak mampu lagi berdiri secara mandiri. Ketika kebijakan Mesir menjadi negara boneka AS dan Israel. Apa pun yang terjadi jika dibandingkan dengan Indonesia. Masih tetap hebat Indonesia. Hanya satu kekurangan dari warga bangsa Indonesia, termasuk para pejabat, eksekutif, dan legeslatif; termasuk orang kayanya, tidak mau bersyukur dengan Tuhan yang Maha-esa.

Syukur tidak cukup diucapkan dengan kata alhamdulillah. Memang itu tidak salah. Akan tetapi syukur yang semestinya dimiliki warga bangsa ini adalah Perubahan Perilaku ke arah yang lebih bermartabat, berderajat, dan bermanfaat; sebagai seorang hamba Allah yang muslim lagi berkeimanan.

Seharusnya bangsa Indonesia tinggal mengembangkan “5 Pilar Kemajuan Bangsa”, yakni: 1).Agama menjadi motivator kecerdasan; 2).Pancasila sebagai motivator bernegara; 3).UUD 1945 sebagai motivator hukum dan administrasi; 4).Bhinneka Tunggal Ika sebagai motivator kehidupan majemuk; dan 5).NKRI sebagai wadah perjuangan bersama membangun Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, atau baldatun thayyibatun wa rabun ghafur, atau abantal ombak, asapok angin.

Sehingga Indonesia benar-benar menjadi sebuah bangsa yang bersendikan abantal syahadat, asapok iman, apajung Alloh. Silahkan perhatikan dengan seksama. Mesir tidak punya potensi-potensi tersebut. Memang thayyiblah, penduduknya sebagian besar beragama Islam. Namun sejauhmana praktek pengamalan Islam ditlatah Mesir. Lebih baik Indonesia, insya Allah.

Yang seharusnya terjadi, maaf saja, bukannya anak-anak kita yang ke luar belajar di Mesir. Tetapi, para ulama dan ilmuwan Mesir yang seharusnya didatangkan untuk mengajari putera-puteri ibu pertiwi.

Perguruan tinggi kita tidak kalah hebat dengan yang ada di Mesir. Meski usianya relatif lebih muda. Akan tetapi kemampuan keilmuan, baik dari segi knowledge dan scientific dapat disejajarkan dengan perguruan tinggi dunia di mana pun.

Kita itu cuma dihinggapi penyakit rendah diri. Seolah-olah yang dari luar Indonesia itu pasti baik. Pasti bagus. Pasti pinter. Memang tidak semuanya salah. Namun munculnya kesadaran dan sikap mental syukur dari dalam diri kitalah, yang nantinya dapat membawa Indonesia menjadi bangsa besar dengan perubahan besar menuju pada sebuah peradaban besar, Imperium III; insya Allah. [ ]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: